JAKARTA – Imbauan Menteri Pertanian Suswono agar petani memanfaatkan lahan terlantar untuk ditanami kedelai dipastikan tidak akan berjalan dan hanya wacana.
Pasalnya, sejak 1998, petani secara berangsur-angsur meninggalkan kegiatan bercocok tanam kedelai karena dinilai tidak menguntungkan.
“Petani kita hanya bisa produksi kedelai, karena 29,6 persen dari total kebutuhan dalam negeri dan selebihnya diimpor. Padahal, pada 1992 kita sudah swasembada kedelai,” ungkap Anggota Komisi VI DPR-RI Syukur Nababan, di Jakarta, Rabu (25/7/2012) malam.
Menurut Syukur, permintaan Kementerian Pertanian untuk menyediakan lahan seluas dua juta hektare (ha) untuk ditanami kedelai tidak memiliki korelasi dengan upaya pemerintah dalam menekan harga kedelai nasional.
“Seharusnya pemerintah menyelesaikan terlebih dahulu masalah penetapan harga kedelai dan segala konsekuensinya ditanggung negara,” imbuhnya.
Syukur juga menyebutkan kelangkaan ini memiliki dua faktor, yaitu komoditasnya benar-benar langka dan kelangkaan akibat adanya spekulasi.
“Pemerintah harus berani menunjuk satu perusahaan saja sebagai importir sekaligus sebagai buffer stock,” pungkas Syukur. (gna)
(rhs)
Read more ยป
Related posts: