Edukasi Masyarakat soal Bahaya Radikalisme, Nusa Pers buat Video Edukasi

Jakarta- Perhimpunan Pers Mahasiswa Nusa Pers membuat video edukasi dengan tema ‘Mewaspadai Aksi Terorisme Selama Bulan Ramadhan dan Jelang Perayaan Hari Raya Idul Fitri’, yang ditayangkan pada Kamis (14/5/2020).

Dalam video tersebut Nusa Pers menghadirkan narasumber kompeten, seperti KH. Qosim Arsyadani, MA (Wakil Ketua Lembaga Dakwah NU), Stanislaus Riyanta (Pakar Intelejen dan Terorisme) dan Sayid Iskandarsyah (Ketua PWI DKI Jakarta).

KH. Qosim Arsyadani mengatakan beberapa hari yang lalu ada teman-teman yang terpapar dengan paham radikalisme karena salah dalam memahami kata jihad. Kata jihad itu di dalam bahasa (arab) dikatakan jahada, dalam pengembangannya itu ada yang namanya ijtihad yaitu mencari menggali hukum dalam Al-Quran dan Hadits ini adalah porsinya para ulama. Kemudian kalau diarahkan kepada memerangi hawa nafsu, namanya mujahadah tetapi (bila) diarahkan kepada musuh secara fisik namanya jihad. Tidak bisa dipisahkan antara jihad, mujahadah dan ijtihad. Karena masing-masing punya arti mengerahkan segala upaya kemampuan dan kekuatan untuk mencapai apa yang diinginkan.

“Ternyata perang yang secara fisik walaupun dahsyat, bahasa Rasulullah itu kecil, orang yang benar-benar pahlawan mujahid itu adalah orang yang ternyata bisa mujahada yaitu memerangi hawa nafsu.” tambahnya.

Stanislaus Riyanta mengatakan hampir menjadi fenomena setiap tahun ketika menjelang lebaran bahwa aksi teror itu terus terjadi. Akhir-akhir ini bermula dari fatwa pimpinan ISIS beberapa tahun yang lalu yang menyarankan atau bahkan bisa disebut sebagai perintah kepada anggota-anggota ISIS di seluruh dunia untuk melakukan semacam aksi yang mereka sebut sebagai “amaliyah” di bulan puasa.

“Karena mereka punya keyakinan, mereka menganggap bahwa aksi di bulan puasa itu pahalanya lebih tinggi. Ini yang mereka doktrinkan kepada anggota-anggota mereka” tambahnya.

Stanislaus juga mengatakan kalau kita melihat tentang teori kerawanan, saat ini memang banyak kerawanan yang bisa dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok tertentu untuk melakukan aksi kejahatan.

“Jadi dengan adanya kesibukan pemerintah menangani kasus corona ini kemudian menjelang bulan puasa. Kerawanan ini menjadi celah untuk mereka untuk melakukan aksi.” ujarnya.

Kemudian Sayid Iskandarsyah mengatakan radikalisme atau terorisme tetap menjadi ancaman bagi negara Republik Indonesia dan mengenai keamanan digital saya pikir mereka akan selalu berupaya bagaimana paham-paham itu tetap ditularkan melalui web atau situs mereka yang memang kita tahu menurut data dari Dewan Pers dan Kominfo, ada ribuan situs yang memang tidak bisa dipertanggung jawabkan sebagai karya jurnalistik.

“Tetapi tentunya negara melalui Kominfo tidak akan tinggal diam, buktinya dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Kominfo nomor 19 tahun 2019 tentang mekanisme pemblokiran. Jadi sebenarnya upaya tetap ada tetapi kita juga tetap bagaimana menanggulangi” tutupnya.

Link Video Edukasi tentang Radikalisme

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *